Menulis fantasi, agak berbeda dengan genre lain karena membutuhkan eksplorasi imajinasi dengan porsi yang lebih banyak, bahkan terkadang untuk cerita tertentu hampir keseluruhannya berdasarkan imajinasi. Di genre ini penulis dituntut untuk memiliki kemampuan mentransfer atau menterjemahkan imajinasinya tersebut ke dalam huruf, sehingga bisa dipahami oleh orang lain.
Miss Worm, Singing in the Rain (1032 kata) à reality-fantasy
http://www.kemudian.com/node/24678
http://www.kemudian.com/node/79357
http://www.kemudian.com/node/15357
Tips:
1. Untuk diingat, fiksi fantasi bukan melogiskan yang tidak logis, tapi membuat yang tidak logis jadi terasa logis. Di sini deskripsi dan plot megang peranan banget, jadi gunakan sebaik mungkin.
2. Gunakan dialog untuk mendeskripsikan ‘dunia fantasi’mu, sebarkan dengan cermat supaya informasi bisa diterima pembaca tanpa membuat bosan.
3. Untuk teaser, sengaja kubuat ‘terbuka’. Boleh kamu lanjutkan. Tapi kalau kamu mau buat cerita lain juga bisa dengan teaser tersebut, karena bisa nyambung ke jenis fiksi fantasi mana aja yang kamu pilih.
- kompatibilitas sangat tinggi dengan fantasi ‘tipe magic', baik ‘pure magic’
maupun tipe ‘sword and sorcery’.
- untuk fantasi2 tipe lain, misal semodel TFH, space opera dan silat klasik, kamu bisa mengandaikan teaser itu sebagai mimpi si tokoh saja. jadi ceritamu bisa lepas sama sekali dengan teasernya, tapi masih bisa dinikmati sebagai satu kesatuan.
- Punya alternatif lain untuk teaser? Silakan. Asal tetap dipakai.
4. Enjoy! J
Mereka mengejarku!
Tetapi ternyata itu bukan panah api. Itu adalah bola api, yang menabrak tanah dan langsung buyar, membakar rerumputan kering di sekitarnya. Ia terpaku dan menyadari kalau nyawanya dalam bahaya.
Bola api kedua muncul dari dalam lorong tapi melesat dan membakar semak-semak Cellendrier di samping kakinya. Kesabarannya habis. Ia berbalik ke arah lorong dengan amarah terpancar di wajahnya.
“Bajingan kalian!” teriaknya murka. “Apa salahku?!”
Cahaya terang muncul dari dalam lorong sebagai jawaban, semakin lama semakin besar... semakin dekat... dan seperti terpasak, ia tidak mampu bergerak. Bergeming ia menatap cahaya itu, dan ketika ia menyadari benda apa yang sedang melesat ke arahnya itu, sudah terlambat.
Bola api raksasa mengarah padanya dengan kecepatan tinggi!
Ia membalikkan badannya seketika. Astaga! Harus lari ke mana?
Dalam benaknya masih berkecamuk pilihan ke arah mana harus melarikan diri ketika tiba-tiba tanah yang dipijaknya bergetar keras, membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan.
Tanah di bawahnya runtuh.
Teriakannya tertelan kegelapan. Masih sempat ia melihat bola api tadi melintas di atasnya, di atas lubang besar hitam yang menenggelamkan dirinya, menariknya ke dasar bumi, terus dan terus.
Lubang gelap itu tak bertepi.
Walaupun demikian, anehnya, ia tidak merasa hidupnya akan berakhir. Hatinya kosong dan pikirannya jernih. Sangat tenang.
Ia merasa kisahnya akan segera dimulai.
