Rabu, 30 April 2008

KEMUDIAN IDOL : AWARD

Dengan ini kami, panitia Kemudian Idol : AWARD mengumumkan para Nominator untuk kategori sebagai berikut :

-----------------

......... o-O0 Kategori CERPEN oO-o .........

1. Bus Nomor 12, by : tedjo
2. Di Tengah Kiri dan Kanan, by : -riNa-
3. Awal Perseturuan Kucing dan Tikus, by : naela_potter
4. CAT's BELL, by : zhang he
5. Cerita Telur, by : moccha chi

......... o-O0 Kategori PUISI oO-o .........

1. Salam Senja Untukmu, by : yugi yakuza
2. Lagu Dalam Kamar, by : danu
3. Toegoe Djogjakarta, by : simbah
4. Gerimis yang Indah, by : trisun123
5. Cerita Perempuan Api, by : pengu

......... o-O0 Kategori 100 KATA oO-o .........

1. Empat Sehat Lima Sempurna, by : villam
2. Mainan Baru, by : yosi_hsn
3. Lamunanku (Gue Putus!!!), by : paijo RX
4. Siapa Hendak Kasih Cium, by : on3th1ng
5. Jangan Tanya Kenapa, by : snap

......... o-O0 Kategori KOMENTAR oO-o .........

..... (tolong jangan diberi komentar tambahan di cerita ini agar komentar yang masuk nominasi ini tidak tergusur ^^) .....
1. komentar dari : alfare
2. komentar dari : andrea
3. komentar dari : villam
4. komentar dari : mbahYus
5. komentar dari : buayadayat

......... o-O0 Kategori TOPIK FORUM oO-o .........

1. TerimaKasih PERKOSAKATA 2008, by : ananda
2. ADA PLAGIAT! PARAH BGT! NICK-nya KUPU-KUPU, by : LORD_CELEBRUM
3. kemudian is better than sinetron, by : payung
4. Avatar siapa yang menurut lo paling Narsis, by : jalaindra
5. Apakah Tulisan Kisah Nyata = Diary?, by : erika

-------------------------

Silahkan dibaca dan ditentukan pilihan masing-masing. Tata cara pemilihan akan diumumkan besok ^_^ selamat bersenang-senang.
Baca selengkapnya......

Kamis, 17 April 2008

BEST five Kemudianers (April)

Well... ini adalah sebuah penilaian subjektif dari diriku. Silahkan diprotes kalo nggak setuju, silahkan dikirim uang kemari kalo sepakat ^_^. Penilaian berdasarkan poin yang didapet, keaktifan menulis, popularitas, dan keaktifan di forum. Silahkan membaca ^_^...

1. (lagi-lagi) DADUN
2. Villam + Bamby Cahyadi + Kenary
3. Yosi_hsn
4. Rijon + Lord_celebrum
5. Zhang he + Paijo RX

Thanks Baca selengkapnya......

Selasa, 01 April 2008

M O M E N T U M

MOMENTUM
Penantang: Bintang Alzeyra
Yang Ditantang: someonefromthesky



--Schnee

Salju itu hinggap di kelopak matanya. Basah. Andra berdiri di sampingku sambil memegang kameranya, sesekali membersihkan salju yang menempel pada benda kesayangannya itu. Hari ini ada banyak objek lagi yang ingin ia amati, tapi ia terlihat agak lelah siang ini. Kulit wajahnya mulai terlihat pucat seperti orang-orangan salju. Aku mengenggam tangannya dan mengajak ia berteduh di teras rumah kami yang mungil. Semburat senyum tenang merekah di bibirnya sambil berlari kecil mengikuti langkahku. Aku tertawa melihat ia yang terlihat bersemangat.

Musim dingin di Belanda bagiku terasa seperti surga. Meskipun di negeri ini salju hanya turun beberapa hari saja, tapi kadang waktu yang paling sebentar sekalipun bisa terasa lebih panjang daripada keabadian. Momentum, begitu katanya. Kini aku dan suamiku berdiri berangkulan di teras rumah sambil memandangi gumpalan-gumpalan putih yang mengarak turun dari langit, serta pohon-pohon berbaris yang seolah diselimuti gula. Tak ada siapapun selain kami berdua. Kusandarkan kepalaku di pundaknya, dapat kurasakan ia menoleh ke arahku. Tatapannya selalu lemah, tapi bola matanya penuh dengan semangat. Di lehernya terjalin selembar syal yang kurajut sendiri semusim yang lalu, kini tak akan pernah ia lepaskan. Selalu saja terlintas dalam benakku, seandainya seumur hidup akan jadi seperti ini. Seandainya seumur hidup salju akan terus turun di pekarangan rumah kami, dan tiupannya yang dingin akan selalu membuat tubuh kami tak pernah mau berpisah walau selangkahpun.

Beberapa menit kami diam tak bersuara, lalu Andra melepaskan sandaranku dari pundaknya. Ia menunjukkan kamera kesayangannya padaku sebagai sebuah isyarat, lalu tersenyum dan berlari ke pekarangan rumah kami. Aku tak bergeming di teras rumah, menatap ia yang menatapku di antara guguran salju. Ia mengangkat kameranya ke dekat wajah dan mulai membidikku. Beginilah dia kalau inspirasinya tiba-tiba saja muncul. Aku berusaha untuk tidak menunduk saat kameranya membidik wajahku. Walaupun sudah ratusan kali ia memotretku, tapi sampai sekarang aku masih saja tersipu malu. Mudah-mudahan saja wajahku tak memerah karenanya. Semerta-merta perasaan ini membawaku kembali ke musim yang lain di tempat yang lain, saat salju-salju itu belum turun dan membasahi kelopak matanya, kira-kira setahun yang lalu....

--Sonnenuntergang

Gutten morgen!” ucapku sambil menepuk pundaknya dari belakang.

Ia yang sedang terlarut memperhatikan seisi ruang pamerannya spontan saja kaget dan menoleh padaku. Sekilas ia terlihat akan mengucapkan sesuatu, tapi dirapatkannya lagi bibirnya dan malah melepaskan sebuah senyuman lega. Aku membalas senyumannya.

Wie geht’s?” tanyaku setengah berbisik.

Gut,” jawabnya singkat.

Tapi kemudian dengan tiba-tiba ia membidikkan kamera yang sejak tadi sudah ada di tangannya. Cklik! Giliranku yang kaget, sementara ia senyam-senyum sendiri. Merasa dipermainkan, aku pukul bahunya dengan pelan. Ia malah tertawa.

Herr Andra, harus kubilang berapa kali, sebelum memotret orang harus minta izin dulu!”

“Maaf, Nona Eva. Untuk seorang fotografer, momentum adalah sebuah objek yang berharga untuk diabadikan, dan momentum tidak bisa direncanakan. Kamu kan juga fotografer, pasti tahu kan?” ucapnya sambil berlagak serius.

“Oke, aku tahu kamu sudah terkenal sekarang, tapi jangan sok serius begitu dong!” balasku sambil cemberut protes.

Ia tertawa sambil memperlihatkan barisan giginya yang putih. Seumur hidup tinggal di Jerman, aku tak kenal banyak orang Indonesia, tapi rasanya laki-laki ini adalah orang Indonesia paling tampan yang pernah kulihat. Entahlah, mungkin karena satu dari dua kenalanku yang lain adalah perempuan.

Aku mengenal Andra dari sebuah forum fotografi di internet. Sementara aku bekerja di agensi fotografi Ostkreuz, waktu itu ia sudah menjadi seniman terkenal di negaranya, dan bahkan di dunia internasional. Kira-kira hampir setahun kami berkenalan dan saling bertukar pikiran di dunia maya, akhirnya Andra berkesempatan untuk datang ke Jerman. Ia dan seorang temannya, Doni, mendapat beasiswa di Künstlerhäuser Stiftung Starke di Berlin dan tinggal di Jerman selama setahun. Tentu saja waktu itu aku gembira sekali, karena diam-diam aku sudah mengaguminya sejak pertama kali berkenalan. Semenjak saat itu kami pun semakin akrab, bahkan kami sudah seperti teman sejak kecil. Hari ini sudah genap setahun ia tinggal di Jerman.

“Setelah penutupan pameran ini aku berencana untuk kembali ke Indonesia,” ucapnya dengan nada resah.

“Iya, aku tahu. Kau pasti sudah rindu dengan keluargamu di sana?” tanyaku sambil menyimpan kegelisahan di dalam hati.

Ia mendesah pelan, “seperti yang kamu tahu, aku tidak punya banyak keluarga. Meski begitu, ada juga hal-hal yang harus kulakukan di kampung halamanku.”

“Oke, aku mengerti. Jangan lupa untuk menghubungiku dan kapan-kapan sempatkanlah untuk kembali ke sini ya?” pintaku meyakinkan.

Ia hanya tersenyum dan menunduk, seolah sedang berusaha mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. Aku tak tahu hal macam apa yang ia pikirkan sekarang, ia tampak sangat gugup. Tiba-tiba saja ia menggenggam kedua tanganku.

Ich hab dich lieb,” ucapnya pelan.

Ucapannya barusan terdengar seperti orang asing yang baru pertama kali belajar Bahasa Jerman dan coba-coba mengucapkan ‘I love you’ kepada pacarnya, ia amat gugup dan suaranya hampir tercekat di tenggorokan. Aku tergagap-gagap menanggapinya, tak tahu harus berkata apa.

Was meinst du...?” tanyaku.

“Eva..., menikahlah denganku,” ucapnya dengan lebih yakin dari sebelumnya

Aku hanya terdiam, bingung. Ingin aku katakan ‘ya’, tapi aku harus berpikir dulu, aku tak bisa membuat keputusan sepenting ini secara tiba-tiba. Ini bukan seperti ajakan kencan atau nonton karnaval, ini adalah masalah pernikahan.

“Aku mengerti. Besok aku akan pulang ke Indonesia, tapi sebulan kemudian aku akan kembali ke Jerman untuk mendengar jawabanmu. Kalau kau berkenan, aku juga akan membicarakannya dengan keluarga Fritz, orangtuamu,” ia mengehembuskan nafas lega sambil melepaskan genggaman tangannya.

Aku tersenyum padanya, seolah-olah ingin memberinya sebuah sandi, ‘kembalilah bulan depan, kau tidak akan kecewa’. Tapi tak perlu kuucapkan secara verbal, ia pasti akan menepati janjinya, aku yakin itu.

-- Mittag

Tepat seperi apa yang diucapkannya, sehari kemudian ia pulang ke Indonesia. Aku dan temanku yang juga orang Indonesia, Raras, mengantarnya sampai bandara. Sementara itu, teman Andra, Doni, tidak ikut pulang bersamanya. Itu artinya Andra pulang sendirian, aku berharap semoga ia selamat sampai di negaranya.

“Jadi betul kau akan menikah dengan Andra?” Tanya Raras penasaran saat kami duduk-duduk santai di teras rumahku.

“Aku belum bilang begitu padanya, tapi bulan depan ia akan ke sini, dan saat itu aku harus mengatakan jawabannya.”

“Dan jawabanmu?” tanyanya lagi sambil kemudian menyedot lemon tea.

Aku sengaja tak menjawab pertanyaannya, hanya memberi isyarat dengan menaikkan alis sambil tersenyum. Ia mengerti isyaratku dan hanya tertawa terkekeh menanggapinya. Temanku yang satu ini memang sudah lama kukenal dan paling memahami isi pikiranku. Ia adalah orang Indonesia yang pernah kuliah di Jerman, satu kampus denganku semasa kuliah.

“Tapi apa keluargamu tak apa-apa kalau kau menikah dengan orang Indonesia? Dengan orang asing?” tanyanya agak heran.

“Tak apa-apa. Walaupun keluarga besarku terkesan angkuh, tapi mereka tidak memandang orang dari negaranya. Buktinya, ada sepupuku yang menikah dengan orang Belanda dan sekarang tinggal di sana, bahkan kakak laki-lakiku menikah dengan wanita Jepang!” aku menjelaskan, Raras tersenyum gembira mendengarnya.

Hari-hari pun berlalu. Siang mengendapkan malam, dan malam menguap menjadi fajar. Setiap sore aku duduk di teras ini sambil memotret diriku sendiri, melihat perubahan yang ada pada wajahku. Aku ingin tahu, seperti apa ‘wajah penantian’ itu. Cuma tiga puluh hari, bagiku seperti seumur hidup. Mungkin ini yang Andra sebut sebagai ‘momentum’, suatu titik waktu yang terasa seperti keabadian, karena itulah aku memotretnya. Aku ingin menangkap momentum pada wajahku, kegairahanku, ketidaksabaranku untuk mengatakan sebuah jawaban.

Tepat sebulan hari yang dijanjikan, ia tak juga memberi kabar. Esoknya, kucoba hubungi lewat telepon, sudah tidak aktif. Kukirimkan email untuknya, namun selama seminggu tak juga ada balasan. Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah dia sakit? Ataukah dia mengingkari janjinya? Tapi kenapa? Ratusan pertanyaan menyelimuti pikiranku bagaikan labirin yang tak berujung.

Kupotret lagi wajahku. Kini jauh lebih suram dari yang bisa kubayangkan. Ternyata wajah kecemasan itu seperti ini. Beberapa minggu kemudian aku mulai berusaha untuk melupakan kata-kata Andra, tapi waktu kudengar minggu ini Doni akan pulang ke Indonesia, harapan kembali muncul. Doni adalah orang yang baik. Semenjak Andra mengenalkanku dengannya, ia begitu perhatian padaku. Bahkan pernah sekali ia mengatakan suka padaku, tentu saja tak pernah kuanggap serius karena ia memang orang yang jarang serius. Oleh karena itu, aku tak sungkan untuk segera menemui Doni dan menceritakan semuanya kepadanya. Kukatakan padanya untuk menemui Andra begitu tiba di Indonesia dan memberi kabar padaku lewat email.

Aku hanya bisa terus berdoa semoga Andra baik-baik saja. Kuteruskan ritual memotret wajah setiap sore. Wajah kecemasan yang kutangkap kini telah berubah menjadi wajah kebingungan, sampai suatu hari aku membuka email dari Doni.

Dear Eva,
Aku tidak tahu harus dengan cara apa menjelaskan semua ini, aku tahu ini akan berat bagimu. Syukurlah Andra di sini baik-baik saja, kesehatannya terjaga. Namun ada satu hal yang kurang menyenangkan bagimu. Saat aku datang ke sini, Andra sudah bersama wanita lain, istrinya. Ia bilang ia merasa sangat bersalah padamu, makanya ia menghilang dan tidak menepati janjinya. Ia juga berpesan agar kau tidak menunggunya atau mencarinya lagi. Aku hanya berharap semoga kamu bisa memaafkan sahabatku itu.
Doni.


Kepalaku mendadak pening, seolah terjadi gempa dahsyat di seluruh negeri. Segera kumatikan komputer, lalu aku duduk lemas di atas tempat tidurku. Kuambil kamera dan kupotret setiap detik momentum di wajahku. Setiap kerutan di sudut bibir, setiap gurat merah di muka kulit, setiap tetes air mata yang mengalir pelan di pipiku. Tak ada satupun yang terlewat. Biar kuabadikan momentum ini, wajah kesedihan. Aku tahu aku tak bisa percaya begitu saja pada Doni, tapi hanya itu satu-satunya kabar yang kudengar.

Tiba-tiba muncul sebuah pikiran dalam kepalaku. Kucetak semua foto wajahku yang kupotret sejak kepergian Andra, lalu kukumpulkan. Foto yang penuh dengan wajah gelisah dan cemas, pikirku. Akan kuberikan foto-foto ini kepada Andra secara langsung. Aku ingin ia melihat perubahan wajahku setiap harinya. Aku ingin ia melihat apa yang telah diperbuatnya, walaupun bila seandainya aku memang harus melupakannya.

Dengan hati yang masih kacau aku ditemani Raras berangkat ke Indonesia. Dalam perjalanan, berkali-kali Raras mengingatkanku agar jangan terlalu percaya dulu pada cerita Doni. Menurutnya, Doni bisa saja berbuat licik untuk menjauhkan aku dan Andra, karena siapa tahu Doni pernah benar-benar menyukaiku tapi merasa ditolak. Aku hanya bisa mengira-ngira saja, kalaupun memang Doni berbohong, kenapa Andra melanggar janjinya padaku?

-- Guten Abend

“Nama saya Andra. Saya bekerja sebagai seniman dan fotografer semenjak lulus kuliah. Meskipun sudah tak memiliki orangtua dan belum berkeluarga, hidup saya berjalan dengan cukup baik dan bahagia. Namun, kira-kira tiga minggu yang lalu, saya divonis memiliki HIV positif. Waktu itu, hidup saya terasa mau runtuh, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang telah saya lakukan. Yang saya ingat, setahun yang lalu sebelum saya pergi ke Jerman, saya sempat melakukan ekspedisi ke pedalaman Afrika untuk memotret kehidupan suku pedalaman. Di sana saya mengalami suatu kecelakaan dan terpaksa menerima tansfusi darah darurat. Sekarang, keberaaan virus ini memang bukan salah saya, tapi juga bukan salah siapapun. Saya tak ingin menyalahkan siapapun dan hanya bisa menerima saja. Setelah beberapa lama terlarut dalam kebimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak berhenti berkarya. Bagi saya, Tuhan memberikan suatu peringatan kepada saya bahwa hidup ini bisa berakhir kapan saja –untuk siapapun, pengidap HIV atau bukan. Maka saya bertekad untuk memanfaatkan setiap tarikan nafas saya mulai saat ini dengan sebaik mungkin. Saat ini, saya mulai menjalani terapi antiretroviral dan saya masih baik-baik saja. Saya harap teman-teman juga tetap bersemangat menjalani hidup, dan tidak pernah berhenti berkarya.”

Tepuk tangan dan riuh sorak para hadirin menggema di ruangan yang cukup besar itu. Tak terasa, air mataku mengalir seperti anak sungai. Raras yang duduk di sampingku merangkulku dan berusaha menenangkan diriku. Tak pernah kubayangkan kami akan sampai di sini dan mendengar ucapan itu dari mulut Andra sendiri. Saat kami sampai di Indonesia, kami mendapat informasi dari teman-teman seprofesinya bahwa ia akan menghadiri sebuah acara seminar mengenai AIDS. Lalu kami pun menghadiri acara itu. Waktu itu aku tidak habis pikir kalau hal seperti ini yang akan terjadi.

Aku menghampiri Andra setelah acara selesai. Waktu melihatku, terlihat perubahan suasana di wajahnya. Seperti perpaduan antara rasa takut, sedih, dan kerinduan yang menjadi satu.

“Maaf, Eva...,” ucapnya tanpa berani menatap mataku secara langsung.

Aku menarik nafas berusaha menenangkan diri, “Aku sudah dengar ceritamu. Apakah itu artinya kata-kata Doni tidak benar?”

“Soal apa?” Tanyanya heran.

“Bahwa kau sudah menikah dengan wanita lain?” walau aku tahu jawabannya, tapi hatiku masih berteriak meminta konfirmasi.

“Eva, wanita yang ingin kunikahi adalah kamu, tak ada yang lain. Tapi..., aku tak ingin merusak kehidupanmu dengan keadaanku yang sekarang,” jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak menepati janjimu untuk datang? Setidaknya kamu bisa menanyakannya kepadaku sekali lagi! Apakah kamu tidak tahu kalau aku sudah menyiapkan jawaban untukmu?” ucapku setengah berteriak.

Kubiarkan air mata yang kembali mengalir deras di wajahku. Kulihat mata Andra semakin basah dan sepertinya ia menahan diri agar tidak menangis. Kulihat gerakan nafas di tubuhnya yang berdenyut mencari ketenangan, seperti ada dua arus yang saling bertabrakan di dalam sana.

“Memangnya, setelah kau tahu aku memiliki HIV positif, kau mau menikah denganku...?”

Mendengar pertanyaanya, tiba-tiba saja kurasakan sebuah ombak besar yang menghantam setiap batu karang di jiwaku. Kemudian ombak itu berubah menjadi pusaran air raksasa yang menyedotku ke dalamnya dan meremukkan setiap inci tulang-tulang di tubuhku. Dadaku sesak. Jawaban bulat yang seolah sudah mengendap kuat di dalam dada, kini lumer dan membuatku kembali bimbang.

Pertanyaan yang tak pernah kubayangkan akan kutanyakan, kini muncul tiba-tiba. Akankah aku menikah dengannya? Kalau aku menikah dengannya, bagaimana dengan keluargaku? Selama ini mereka memang sangat liberal dalam menentukan calon pasangan anak-anaknya, tapi tak ada satu rekor pun yang menyatakan bahwa dalam anggota keluarga Fritz ada yang pernah menikah dengan pengidap AIDS! Terutama ayahku, ia adalah orang yang tegas. Ia menghargai keputusan anaknya dalam mengambil jalan hidupnya masing-masing, tapi ia juga tak segan-segan untuk memberikan sanksi. Mungkin ia akan mengusirku, tidak mengizinkan aku menginjakkan kaki di rumahnya lagi. Lalu aku akan tinggal bersama Andra. Berdua saja. Andra adalah seorang yatim piatu, dan aku ragu apakah kami akan memiliki keturunan bila menikah nanti. Lalu, aku mungkin akan kesepian tinggal di negeri orang. Dan satu rasa takut yang menggores perasaanku adalah, apabila suatu saat tubuh Andra dan obat-obatan yang terbatas tak lagi mampu menahan penyakit AIDS di tubuhnya. Pada titik itu aku mungkin akan ditinggal sendirian.

Terpikirkan dalam benakku untuk meninggalkan semua ini. Aku mungkin bisa saja melupakan Andra, tidak berkomunikasi dengannya lagi. Tapi aku tak sanggup membayangkan Andra hidup sendirian. Aku tahu ia mencintaiku, dan kalau seandainya ia tidak memiliki virus itu di dalam tubuhnya, semua ini pasti akan berjalan dengan lancar. Aku tahu kalau hal ini bukanlah kesalahannya. Picik sekali bila aku meninggalkannya karena tak mau menerima dia apa adanya.

Kebingungan itu terus hinggap dan terus kubawa kemanapun aku pergi, seperti bandul berat yang selalu menggelayuti pundakku. Ada sebuah lubang penyesalan di dalam dada ini, kenapa aku tidak menjawab pertanyaan Andra yang terakhir itu. Aku hanya bisa diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun hingga aku kembali ke Jerman. Sebelum aku pergi dari hadapannya, aku dapat menyaksikan wajahnya yang sendu, seperti kerelaan dan ketidakrelaan yang berdiri bersebelahan. Matanya yang redup, seperti bukan sosok Andra yang selama ini aku kenal.

“Eva, sekarang semua pilihan ada padamu. Kamu punya dua pilihan utama, apakah kamu akan menikah dengan Andra yang telah divonis HIV positif, atau kamu akan melupakan semua itu dan tidak akan mengambil resiko apapun,” ujar Raras memperjelas keadaan.

“Aku tidak tahu, Ras. Kalaupun aku memutuskan untuk tetap menikahinya, bagaimana dengan orangtuaku? Apakah mereka mau menerimna Andra?” Tanyaku semakin gusar.

“Dalam hal itu kamu lagi-lagi punya dua pilihan. Pertama, kamu menikah dengan Andra tanpa memberitahu keluargamu tentang penyakit yang diderita Andra saat ini. Resikonya, suatu hari nanti cepat atau lambat, keluargamu pasti akan menyadari juga keadaan suamimu. Pilihan kedua, kamu jujur pada keluargamu, kamu meminta restu pada mereka. Resikonya, tentu saja apabila mereka tidak merestuimu atau malah mengusirmu dari keluarga.”

Aku membayangkan semua kemungkinan yang ada. Ini adalah pilihan terberat dalam hidupku. Setiap hari aku tidak berhenti berdoa, semoga saja aku mendapat jalan keluar dari masalah ini. Hingga pada suatu malam, masih dengan pikiran yang kalut, aku merasa harus mengambil satu keputusan yang pasti.

Dengan disesaki lantunan musik Mozart yang biasa kudengar dari komputerku, kuperhatikan lagi semua foto wajah yang tidak jadi kuberikan pada Andra. Kutempel semua foto-foto itu di dinding kamarku secara kronologis. Foto pertama yang kuambil setelah mengantar kepulangan Andra, sampai foto terakhir yang kuambil sepulang dari Indonesia setelah mengetahui penyakit yang diderita Andra.

Lihatlah Andra, apa yang telah kauperbuat pada wajahku dalam beberapa bulan terakhir ini? Gumamku dalam hati. Hampir semua foto wajah yang kutempel di dinding kamarku adalah wajah dengan nuansa suram. Kalau bukan kegelisahan, kecemasan, ketakutan, pastilah kekecewaan. Suasana suram itu ikut menyusup ke dalam hati dan pikiranku. Kalau yang ia perbuat selama ini hanya membuat hidupku jadi suram, mungkin sebaiknya aku melupakannya saja. Seolah melupakan kenangan-kenangan manis yang kurasakan bersamanya saat ia masih di Jerman, keadaan sekarang yang jauh berbeda membuat keyakinanku pudar. Auf Wiedersehen, selamat tinggal.

Kucopoti foto-foto itu dari dinding kamarku dengan hati yang sesak namun kupaksakan untuk merasa lega. Tapi tiba-tiba tanganku berhenti mencopoti foto-foto itu ketika kusadari ada sebuah foto wajah yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Foto wajah pada hari ke-29 semenjak Andra pulang, satu hari menjelang hari yang dijanjikan. Dapat kusaksikan senyuman lebar pada bibirku di foto itu. Aura cerah penuh harapan dan kegembiraan yang belum pernah kulihat di foto manapun juga. Sangat kontras dengan foto-foto wajah sebelum dan sesudahnya, ini adalah foto dengan senyuman paling bahagia yang pernah kusaksikan sendiri. Aku tertegun. Perlahan mataku menjadi basah. Inikah isi hatiku yang sesungguhnya? Inikah keinginan nuraniku yang sesungguhnya? Mataku tak bisa lepas dari foto itu.

--Paradies

“Hei lihat, itukah rumah kita?” ucapku sambil menunjuk sebuah rumah mungil di atas tanah Belanda yang datar.

“Iya, karena kita cuma tinggal berdua makanya sengaja kupilihkan rumah yang mungil saja,” jawab Andra sambil membuka pintu pagar dengan kunci yang dipegangnya.

“Hmm..., walaupun mungil tapi sangat indah,” ucapku pelan.

“Silakan masuk, Nona Eva,” ucap Andra sambil berlagak bak seorang pelayan kerajaan.

Aku segera masuk ke halaman rumah sambil mencubit perutnya ketika melewati pagar. Ia menjerit kecil sambil balas mendekapku. Gelora pangantin baru memang sulit dihindari, bahkan bagi kami yang menjalani pernikahan yang sedikit beresiko ini.

“Rumah sepupuku tidak jauh dari sini lho...,” ujarku.

“Sepupumu yang menikah dengan orang Belanda itu?” tanyanya.

“Iya. Setelah menata barang-barang, bagaimana kalau kita mengunjunginya?” Tanyaku sambil merangkul tangannya.

“Ide yang bagus!”

Kemudian aku duduk di kursi kecil di teras rumah, sementara Andra memeriksa barang bawaan kami. Kuamati pohon-pohon yang tumbuh rapi dan berbaris sejajar, seperti sudah diatur saat menanamnya.

“Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka sama sekali tak menghubungi semenjak pernikahan kita?” Tanya Andra sambil memindahkan sebuah kardus kecil.

“Seperti yang kau tahu, ayahku menepati janjinya. Sebagaimana yang ia katakan kepada kita berdua, bahwa ia merestui pernikahan kita dengan satu sanksi, kita tidak boleh tinggal di Jerman, ia tidak mau berurusan dengan kita,” jawabku dengan nada yang lebih serius.

“Aku masih ingat kata-kata itu,” ujar Andra dengan suara yang sedikit berat.

“Tenang saja. Seperti prediksi Raras, kata ibuku, cepat atau lambat sikap ayah pasti akan berubah. Ia hanya butuh waktu untuk berpikir,” ucapku disertai sebuah senyuman.

Perlahan, Andra berjalan ke arahku dan memeluk tubuhku dari belakang. Dapat kurasakan kehangatannya yang tak hentinya membuatku merasa nyaman.

“....dankeschön,” ucapnya pelan, hampir berbisik di telingaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar tanpa tahu harus menanggapi bagaimana. Meskipun awalnya ini adalah pilihan yang sulit, tapi aku yakin sekarang kalau memang inilah yang aku inginkan.

“Oh ya, foto ini bagaimana kalau kita pajang di kamar saja?” Tanya Andra tanpa melepaskan pelukannya.

Kulihat foto yang ada di tangannya. Ternyata itu dia, ‘foto hari ke-29’, foto ajaib yang telah membuatku berada di sini sekarang. Mungkin terdengar seperti cara konyol untuk membuat keputusan, tapi aku percaya bahwa peristiwa satu detik bisa sama pentingnya dengan peristiwa sepanjang masa.

“Ini adalah momentum, Sayang. Ini adalah foto dari sebuah momentum kebahagiaan,” ucapku.

“Kamu benar, tapi detik ini juga momentum. Hanya saja, momentum ini hanya bertahan sebentar. Kalau abadi, pasti inilah surga,” ucapnya lembut sambil mengecup pipiku.

------------------------
Note:

Paradies: surga, firdaus;
Schnee: salju;
Sonnenuntergang: fajar;
Gutten Morgen: selamat pagi;
Wie geht’s?: apa kabar?;
Gut: baik;
Künstlerhäuser: rumah seni;
Ich hab liebe dich: aku sayang kamu;
Was meinst du...?: apa artinya itu?;
Mittags: siang hari;
Guten Abend: selamat malam;
Auf Wiedersehen: selamat tinggal;
dankeschön: terima kasih banyak;

Baca selengkapnya......

WELCOME TO DEATH_ROOM

WELCOME TO DEATH_ROOM

Penantang : Hikikomori-VQ

Yang Ditantang : Yosi_hsn

“Millia!” Suara Julie terdengar ketakutan. “Aku melihatnya. Dia datang!”

“Siapa?”

Millia memperkeras cengkeramannya pada ponselnya tanpa sadar.

“4li3n!”

Millia membeku sesaat.

“Kita mati, Millia!” Jullie terdengar ingin menangis.

“Julie!”

“Millia..aku..-“

Terputus. Millia tersentak.

“Julie!”

Julie, apa yang terjadi denganmu?

********************************

Awalnya Millia hanya merasa bosan dengan pekerjaannya ketika memutuskan bergabung dengan Lady_Room, chat room via ponsel yang beranggotakan para user perempuan yang membahas masalah-masalah seputar dunia perempuan itu. Dia berkenalan dengan Julie yang lalu memperkenalkan dirinya dengan user tetap Lady_Room lainnya. Dengan cepat Millia bersosialisasi dengan mereka. Mereka bertukar cerita, curhat, bertukar nomor telepon dan chat sampai jauh malam. Semuanya terasa mengasyikan hingga suatu malam seorang user baru muncul mengejutkan mereka.

<> >>4li3n has entered the room

<> >>4li3n : Welcome to death_room

Millia tertawa sendiri melihatnya. Seperti komentar temannay, dia menganggap user baru yang aneh muncul kembali.

<> >>4li3n : jam berdentang 12 kali, pintu death_room telah terbuka

<> >>4li3n : berlanjut kembali, kematian kalian tidak akan tertunda

Membaca pesan itu, Millia mulai berpikir user baru itu kelewatan. Saat itu jam memang sudah lewat tengah malam. Sejenak Millia tidak tahu harus menjawab apa. Jarinya berhenti di udara.

Dia pasti main-main.

<> >>milkymilly : mari bicara yang lain saja

<> >>4li3n : kalian mati

<> >>lady_kirei : hei, sudahlah

<> >>4li3n : satu persatu menuju death_room

<> >>lucky_love : hentikan!

<> >>4li3n : MATI

<> >>restifebi : HENTIKAN!!!

Millia tahu, teman-temannya mulai setakut dirinya.

<> >>milkymilly : kau siapa?

<> >>kanaya : siapa kau??

<> >>4li3n : alien, penjaga Death_room

<> >>milkymilly : CUKUP!! KUMOHON !!

Setelah itu, user itu tidak muncul lagi dalam chat mereka.

Millia nyaris melupakan kemunculan 4li3en di Lady_room ketika dua hari kemudian Julie untuk pertama kalinya menghubungi ponselnya dan mengabarkan kematian lucky, salah satu user Lady_room dengan nada ketakutan. Dia bilang itu karena ulah 4li3en. Millia hanya tertawa walaupun hatinya entah kenapa berdesir aneh.

Keesokan harinya Resti memberitahukan kecelakaan yang menimpa Kirei, user lainnya. Pembicaraan Lady_room berikutnya berubah ke pembahasan mengenai user 4li3n. Beberapa hari kemudian dua user lain berturut-turut menghilang dari Lady_room. Julie mengaku tidak bisa lagi menghubungi mereka dan semakin yakin ini berhubungan dengan keberadaan 4li3n. Dia ketakutan. Millia juga mulai merasa ragu untuk tidak mempercayai berita itu. Ketika mereka semua bingung, tiba-tiba sebuah pesan muncul, membuat mereka terbelalak ngeri.

<> >>4li3n has entered the room

<> >>4li3n : satu-persatu menuju death_room!

Millia menjatuhkan ponselnya tanpa sadar.

********************************

Apakah Julie baik-baik saja?

Millie mencoba menghubungi temannya sekali lagi. Dia makin gugup ketika menerima nada tidak aktif di ujung sana. Pikiran-pikiran mengerikan itu muncul dalam pikirannya.

4li3n telah mencapai Julie!

Millia merinding.

Tidak! Aku cuma paranoid!

Kau mungkin berikutnya!

Diam!!

Millia melempar ponselnya. Semuanya tidak mungkin. User yang bsia menghabisi user lain, itu pasti hanya permainan. Siapapun dia Millia memutuskan dia hanya sekedar mengganggunya. Itu tidak sungguh-sungguh! Dia benci Lady_room. Dia tidak mau mengunjunginya lagi. Dia tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang 4li3n dan dia tidak mau ambil pusing tentang Julie, tentang Lucky, tentang Kirei, atau tentang user lainnya.

Persetan dengan Lady_room!

Malam berikutnya, Millia menjerit mendapatkan pesan itu di messangernya.

<> >>4li3n : kau berikutnya

<> >>4li3n : besok kematianmu

<> >>4li3n : satu persatu menuju death_room

Millia terduduk lemas.

Ini pasti main-main!

Millia tersadar ketika merasakan seseorang tengah mengamatinya dari jendela. Tanpa sadar dia menoleh ke sana dan diapun menjerit ngeri. Sepasang mata semerah darah di tengah kubangan jelaga itu menatapnya dari jendela. Wajah kosongnya yang seputih kapas dan jari-jari sekurus tengkorak menempel di kaca. Urat-urat, kalau memang bisa disebut urat, itu tampak biru berdenyut-denyut di kulit keriputnya. Sosok itu diam tak bergerak. Millia menjerit makin keras dan menutup wajahnya.

“Millia ada apa?”

“Di jendela!...Pergi! Pergi!” Suara Millia tenggelam dalam telapak tangannya.

“Millia, sayang, tidak ada apa-apa di jendela!”

“Pergi!”

“Millia! Mama tidak lihat apa-apa!”

Millia perlahan membuka tangannya. Sosok itu telah hilang dari jendela. Millia mengerjap menyadari ibunya memandangnya dengan khawatir. Millia menggigit bibir.

“Maaf, mungkin Milly capek, Ma,” katanya pelan. Ibunya menghela nafas.

“Istirahatlah, Milly,” kata ibunya lembut sambil menutup tirai jendela itu. “Jangan terlalu asyik dengan ponselmu.”

Millia mengiyakan dan mengucapkan selamat malam. Dipandangnya punggung ibunya yang berlalu pergi. Entah kenapa perasaan tidak enak merayapi hatinya.

Ma, jangan tutup pintunya!

Suara pintu yang tertutup menyadarkan Millia. Tiba-tiba saja dia merasakan hawa dingin itu. Millia memandang ke AC kamarnya.

Apakah aku terlalu rendah memasang suhunya?

Millia mendekati mejanya dan meraih remote AC. Dia mengamatinya sesaat dan menghela nafas.

Ya, ini terlalu rendah.

Millia mengatur tombol suhu. Entah kenapa dia merasa tengkuknya merinding.

Pesan itu hanya main-main! Sebaiknya aku tidur.

Millia bergerak menuju tempat tidurnya.

********************************

Millia tersentak bangun, memandang dan menyadari dia telah mencengkram erat-erat selimutnya. Tengkuknya masih terasa dingin. Mimpi buruk itu lagi. Millia melihat teman-temannya terhisap satu-persatu ke dalam lubang gelap itu. Mereka menggapai dan menjerit minta tolong. Millia mendekat untuk meraih mereka lalu tiba-tiba sosok itu muncul, melayang ke arahnya sambil menyeringai. Wajahnya sepucat kapas dengan mata semerah darah ditengah kubangan jelaga. Rambutnya berkibar-kibar ketika dia mendekat dengan cepat dan berusaha mencekiknya!

4li3n!

Millia memandang jam di dinding kamarnya. Pukul satu. Dia bisa merasakan suasana yang begitu senyap di sekelilingnya. Dulu Millia tidak mempermasalahkan itu, tapi sekarang dia sungguh benci kesunyian. Millia beranjak melintasi kamar, menghindarkan pandangannya dari cermin besar yang ada di atas meja riasnya. Cermin selalu menyimpan banyak misteri di sisi lainnya. Mungkin saja sosok itu akan muncul lagi mengganggunya melalui bayang-bayang cermin kamarnya. Millia meraih gelas di meja dan menghabiskan isinya. Sejenak dia termangu meyakinkan dirinya.

Tidak, dia tidak akan muncul di kamarku!

Millia kembali menyusup masuk ke balik selimutnya. Sesaat matanya memandang langit-langit. Millia meyakinkan dirinya untuk tidur lagi atau besok dia kerepotan sendiri dengan pekerjaannya. Millia menghela nafas dan memiringkan tubuhnya mencoba posisi yang lebih nyaman. Dan ketika matanya menangkap pemandangan di hadapannya, diapun membelalak ngeri. Wajah itu, wajah yang dilihatnya di jendela tadi!

Perempuan itu tampak buram berbaur dengan aura halo tipis dari pakaian putihnya yang seputih wajahnya. Wajahnya yang kosong menatap ke arah Millia dengan mata semerah darah di tengah kubangan jelaga. Bibirnya begitu pucat mengatup tanpa ekspresi. Rambut panjangnya terurai hitam kelabu. Dia duduk diam di kursi meja riasnya. Millia nyaris tidak bisa bernafas. Dia menyesal telah membiarkan kursinya dalam posisi “seolah- seseorang- sedang- duduk- di -situ

Aku pasti mulai berhalusinasi!

Dia tidak mungkin di dalam kamarku!

Millia perlahan menarik selimutnya menutupi seluruh wajahnya. Gemetar dia mencoba berdoa semampunya. Beberapa menit berlalu. Millia mencoba mengintip dan lega bukan main mendapatkan tidak ada siapa-siapa di atas kursi meja riasnya.

Aku memang berhalusinasi!

Millia memutuskan untuk tidur. Tapi mimpi itu kembali mengganggunya. Jeritan-jeritan itu kembali memenuhi kepalanya.

********************************

Millia bangun kesiangan keesokan harinya seperti orang linglung. Sejenak bayangan sosok itu hilang dari pikirannya ketika dia terburu-buru meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya. Dia nyaris jatuh tertersungkur, tersandung di halaman ketika bergegas keluar dari rumahnya.

“Milly, hati-hati langkahmu!” tegur ibunya. Millia tersentak.

Tersandung, pertanda tidak baik!

Entah kenapa perasaan tidak enak yang amat sangat muncul dalam hatinya.

Millia tidak pernah berpikir dia akan membenci ritual berangkat-ke-kantor-dengan bus-nya pagi ini. Kemarin dan hari-hari sebelumnya dia tidak pernah merasa keberatan harus duduk berdesakkan atau terguncang-guncang selama kurang lebih setengah jam menuju kantornya. Tapi pagi ini, situasi itu benar-benar bukan hal yang diinginkannya. Duduk diam membuatnya memikirkan mimpinya semalam, sosok itu semalam, dan akhirnya membuatnya memikirkan 4li3n dan ancaman itu.

Aku tidak akan mati hari ini!

Itu hanya ancaman iseng!

Kematian lucky dan kecelakaan lainnya hanya kebetulan!

Millia mencoba berulang kali meyakinkan dirinya. Dia terus tenggelam dalam lamunannya tanpa menyadari jari-jari kurus panjang yang perlahan menyentuh bahunya. Millia menoleh tersadar. Seraut wajah sepucat kapas memandang kosong ke arahnya. Matanya merah di tengah lingkaran gelap dengan urat-urat biru berkedut-kedut. Rambutnya yang hitam panjang tidak beraturan. Millia membelalak.

4li3n!

“Giliranmu!’

Millia tersentak dan berseru kaget.

“Giliranmu bayar, mbak!”

Millia mengerjap. Bayangan itu memudar, berubah menjadi wajah cekung , kosong, kurang tidur, berambut gimbal. Kondektur bis itu memandangnya dengan heran sekaligus sebal. Beberapa penumpang di bis itu tertawa kecil dan tersenyum. Millia tersadar. Kondektur itu menyodorkan tangannya. Millia mengambil uang dari dalam tasnya dengan muka bersemu merah.

“Makanya pagi-pagi jangan ngelamun, mbak,” gerutu kondektur itu seraya berlalu. Millia menghela nafas.

Aku tidak bisa begini terus!

********************************

Suasana kantor tampak ramai seperti biasa ketika dia tiba. Dia segera meletakkan tasnya dan mulai membuka komputernya, menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.

Aku harus konsentrasi!

“Millia!”

Millia mengangkat wajahnya mendapatkan petugas resepsionis mendekatinya sambil menyodorkan sebuah amplop polos padanya.

Ada yang menitipkan ini untukmu,” kata temannya.

Millia menerimanya dengan heran.

“Dari siapa?”

“Tidak tahu. Katanya dia juga dititipi seseorang.”

Millia tertegun sesaat.

“Terima kasih,” katanya kemudian. Temannya berlalu.

Millia membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kartu putih dari dalamnya. Millia mencoba membalik kartu itu dan tersentak. Tulisan itu berwarna merah. Mungkin ditulis dengan cat merah, atau bahkan….darah!

Giliranmu! Satu persatu menuju Death_room!

Millia membekap mulutnya, ingin menjerit tapi segera tersadar dia sedang berada di mana. Suaranya seolah tercekik di kerongkongannya. Dia bergegas menghambur ke toilet kantor.

Ini tidak sungguh-sungguh terjadi! Aku tidak akan mati hari ini!

Millia terengah-engah memandang bayangannya di cermin toilet. Tangannya mencengkeram ujung wastafel dengan erat. Kakinya terasa lemas.

Tidak mungkin dia menggangguku pagi-pagi begini!

Suara kran air yang tiba-tiba terbuka membuatnya tersentak. Millia mengangkat wajahnya dan berbalik ngeri menyadari tidak ada seorangpun dalam ruang toilet yang sepi ini.

“Siapa itu?!”

Suara kran terdengar makin keras menghantam dasar porselen bak-bak kecil itu. Millia mendapatkan suaranya tenggelam di antara suara percikan deras kran-kran toilet itu. Millia menggigil ngeri. Tiga toilet berjejer menghadap tembok di samping deretan wastafel tempat Millia berdiri. Millia mendekat perlahan. Entah kenapa lorong di depan toilet itu tampak mencekam. Tiba-tiba saja dia mengeluhkan penerangan kamar mandi yang redup. Kombinasi dari warna lantai dan dinding semakin menambah suram suasana.

“Siapa?”

Millia mendapatkan suaranya gemetar. Menguatkan hati, dia mencoba melangkah menuju deretan pintu toilet yang tertutup itu. Pelan dia berjingkat dan membuka salah satu pintunya dengan tiba-tiba. Suara deras kran air di dalamnya terdengar makin keras.

Kosong!

Dia membuka pintu lainnya.

Kosong!

Pintu yang lain!

Kosong!

Millia bersandar di dinding di ujung lorong dengan ketakutan.

Siapa kau?

“Mbak sedang apa??”

Millia menjerit kaget dan menoleh.

“Mbak?”

Millia tersadar ketika melihat seorang petugas kebersihan masuk ke dalam. Dia buru-buru mendekatinya dengan ketakutan.

“Itu, kenapa krannya tiba-tiba terbuka sendiri?”

Petugas kebersihan itu mengerut heran.

“Mbak kenapa? Kantor baru buka. Ini masih pagi. Keran-keran itu memang dibuka secara otomatis kalau pagi untuk keperluan bersih-bersih.”

Millia merasa seperti orang tolol ketika meninggalkan toilet itu.

“Millia, kau baik-baik saja?”

Millia tidak mempedulikan Diana, temannya, yang menyapanya ketika dia lewat.

Aku baik-baik saja!

Tidak, Aku gila!

********************************

Bagian verifikasi kartu kredit sungguh bukan divisi favorit. Tanggungjawabnya setiap hari hanya memeriksa kelengkapan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan aplikasi yang masuk, memasukkannya dalam database customer dan menyimpan berkas-berkas itu dalam lemari arsip. Kemarin dia masih menganggapnya sebagai pekerjaan yang membosankan. Tapi pagi ini Millia memutuskan untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya ketika melihat setumpuk aplikasi baru di atas mejanya. Dia tidak mau tenggelam dalam pikiran paranoidnya lagi. Dia sudah membuang jauh-jauh surat sialan itu dari meja dan dari pandanganya dan mulai meraih berkas aplikasi pertamanya hari ini.

“Banyak yang masuk hari ini, ya, Milly?”

Millia menoleh. Seno teman satu divisinya mendekat. Millia mengiyakan sambil kembali bekerja.

“Kubantu membawakan ke ruang arsip?” tawar pemuda itu lagi.

“Tidak usah. Kubawa sendiri saja.”

“Baiklah.”

Millia tahu Seno masih memandangnya beberapa saat sebelum pemuda itu akhirnya berlalu menuju mejanya. Suara lembut ponselnya membuat Millia menghentikan gerakannya sesaat. Dia memandang tasnya dengan curiga. Pikirannya sekuat tenaga memblokir gambaran 4li3n, Lady_room user dan ancaman-ancaman itu. Dengan berdebar dia meraih ponselnya. Dia menghela nafas lega melihat nama Jo, pacarnya, berkedip-kedip di layar ponselnya.

Pulang kantor kujemput, ya? Tiba-tiba aku ingin makan malam sama kamu.

Millia merasa kehangatan dan ketenangan yang tiba-tiba menjalari hatinya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyum pertamanya hari ini. Jarinya bergerak cepat membalas sms itu.

Jo, aku sayang kamu.

Jam menunjukkan waktu makan siang ketika Millia beranjak membawa tumpukan arsip-arsip hasil verifikasi itu ke gudang pengarsipan. Ruangan itu terletak di sudut ruang kerjanya, tidak terlalu besar dengan ventilasi yang minim. Rak-rak besi menjulang tinggi, tempat berkas-berkas aplikasi itudisimpan. Dua buah meja kerja tidak terpakai dijejalkan di sudut ruangan itu. Ketika dia menata menyimpan berkasnya, sebagian besar teman kantornya sudah beranjak keluar. Millia menyelipkan berkas terakhir dan menghela nafas. meletakkan berkas itu di salah satu rak terjauh. Dia menghela nafas. Sekarang dia bisa makan siang dengan tenang. Millia mengangkat wajahnya dan tersentak.

Millia tidak tahu harus bagaimana. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokannya. Wanita itu duduk di atas meja tidak terpakai di sudut ruangan. Sudut yang gelap membuat kepucatannya tampak makin bersinar. Sosoknya yang buram bercampur dengan sinar halo samar di sekelilingnya. Wajahnya menunduk, rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya bertumpu pada sisi meja. Sebentuk gambaran kaki berayun pelan seirama dengan punggungnya.

Maju. Mundur. Maju. Mundur.

Perlahan dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Millia. Mata semerah darah di tengah kubangan jelaga itu tepat menatapnya. Wajah kosongnya sepucat mayat. Bibirnya yang beku dan biru itu tiba-tiba bergerak dan menyeringai. Millia terbelalak ngeri. Tangan kurus kering itu terulur ke arahnya. Walaupun jarak itu cukup jauh di antara mereka, Millia mencoba untuk lari. Tapi kakinya seolah tertanam pada lantai. Dia merasa sosok itu tiba-tiba melompat ke arahnya. Akhirnya suaranya menemukan jalannya untuk menjerit. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap.

********************************

“Millia,” suara lembut itu terdengar makin jelas di telinganya. Millia merasakan seseorang menggenggam lembut tangannya.

Siapa?

Millia perlahan membuka mata. Dia mendapatkan Seno dan Diana memandangnya dengan khawatir. Diana menggenggam tangganya.

“Apa yang terjadi denganmu? Seno menemukan kamu pingsan di gudang arsip,” kata Diana prihatin.

Millia tidak menyahut. Dia memandang sekeliling dan mendapatkann dirinya berada di ruangan yang serba putih.

“Ini dimana?”

“Di rumah sakit dekat kantor. Bos langsung menyuruh kami membawamu kesini. Kami khawatir karena kamu tiba-tiba pingsan.” Jelas Diana.

“Kamu kenapa, Millia?” tanya Seno tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Kamu kelihatan aneh sejak tadi pagi.”

Millia tidak menjawab. Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada teman-temannya kalau sesosok wanita berambut panjang yang menerornya belakangan ini telah muncul pula di ruang kerjanya? Bagaimana dia harus menceritakan 4li3n dan ancaman-ancaman itu? Millia tahu mereka tidak akan percaya, bahkan mungkin menganggapnya kekanak-kanakan.

Millia menghela nafas.

“Aku tidak apa-apa. Mungkin darah rendahku kumat,” kata Millia pelan.

Kedua temannya masih di situ beberapa saat kemudian. Keduanya pamit berlalu ketika jam makan siang hampir berakhir. Seno masih sempat memandangnya sebelum pergi.

“Benar kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu.

“Ya.”

*********************

Malam sudah mulai turun. Millia membolak-balik majalah di pangkuannya dengan malas. Dokter memintanya menginap semalam di rumah sakit untuk memastikan kondisi tubuhnya. Millia tahu itu hanya akal-akalan pihak rumah sakit agar dia membayar biaya rawat inap semalam. Tapi Millia sedang malas berdebat. Dia hanya mengiyakan. Ibunya sudah menjenguknya tadi sore. Millia meyakinkan kalau malam ini Jo akan menemaninya sehingga ibunya tidak perlu ikut menginap. Jo mengirim sms hampir setiap setengah jam.

Aku di jalan sekarang. Aku bawa nasi goreng seafood pesananmu.

Millia tersenyum memandang sms terakhir Jo di ponselnya.

Jo, cepatlah kemari.

Millia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia sangat ingin bertemu dengan pemuda itu. Millia menghentikan gerakannya ketika merasakan seseorang memperhatikannya. Seperti ada yang memperkecil suhu AC, ruangan itu tiba-tiba terasa dingin mencekam. Millia merasakan perasaan tidak enak yang menjadi. Pelan dia menoleh dan melihatnya. Sosok itu kini duduk membisu di daun jendela yang terbuka, berlatarkan langit yang mulai gelap. Tubuhnya mengayun pelan.

Maju. Mundur. Maju. Mundur.

Millia tercekat ngeri.

“Mau apa kau?”

Akhirnya dia berhasil mengeluarkan suarnya. Sosok itu tidak menyahut. Tubuhnya masih berayun pelan.

Maju. Mundur. Maju. Mundur.

“Pergi kau,”

Millia bisa merasakan suaranya gemetar.

“Pergi kau!”

Sosok itu mengangkat wajahnya dan menyeringai.

“PERGI! PERGI!!”

Millia menjerit histeris. Pintu kamar terbuka. Dua orang suster masuk dengan terburu-buru.

“Kau tidak bisa membunuhku!!”

“Mbak, ada apa?”

Kedua suster itu berusaha menenangkan Millia. Tapi Millia terus meronta

“Kau tidak bisa membunuhku!!”

Sosok itu berdiri dan mulai mengulurkan tangannya. Millia membelalak.

“Pergi kau!”

“Mbak!”

“PERGI!!”

Sekuat tenaga Millia menyentakkan pegangan kedua suster dan menghambur keluar dari kamarnya.

“MBAK!!”

Millia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruangannya, menrabas apapun yang berada di depannya.

Aku tidak boleh membiarkan dia menangkapku!

Aku tidak bisa membiarkan dia menarikku ke dalam ruangnya!

Harus lari! Lari sejauh-jauhnya!!

“Mbak!! AWASS!!”

Millia hanya bisa mendengar suara dencit ban yang mengerikan itu diikuti oleh suara benturan yang sangat keras. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Suara berderak dari dalam tubuhnya terdengar mengerikan.

Millia tersentak.

Apakah aku lolos darinya?

Millia merasakan suasana sesaat menjadi sunyi di sekelilingnya. Hal pertama yang dilihatnya kemudian adalah sosok itu. Dia duduk berayun-ayun di sebuah dahan pohon di dekatnya. Millia tertegun. Wanita berambut panjang itu ternyata tidak semengerikan yang dia kira. Sepasang mata itu menatapnya. Merah di tengah kubangan jelaga, tapi bersinar sedih. Perlahan dia menyeringai. Bukan seringai, melainkan senyum yang pahit. Millia merasakan keberanian muncul di hatinya.

Kenapa kau menakutiku?

Aku tidak menakutimu.

Millia tersentak mendengar jawaban itu dalam pikirannya. Apakah sosok itu mencoba berkomunikasi dengannya.

Kau 4li3n?

Bukan.

Lalu kenapa kau muncul?

Aku harus memberitahumu.

Memberitahu apa?

Millia tercengang melihat gambaran-gambaran itu. Seolah proses transfer video terjadi dalam pikirannya. Tiba-tiba saja Millia melihat gambaran-gambaran itu dengan jelas.

Perempuan itu mengetik user 4li3n melalui ponselnya yang lain. Perempuan itu menuliskan kata-kata misterius itu sambil tertawa-tawa. Perempuan itu menghubungi teman-temannya satu-satu dan menceritakan rencananya.

“Aku akan bilang kematian yang menimpa Lucky karena 4li3n. Lalu kecelakaan menimpamu. Kemudian Resti dan Kana menghilang. Lalu aku pura-pura diserang orang. Lalu akan kukirim dia pesan. Dia pasti ketakutan!”

Perempuan itu tertawa.

“Julie, apa itu tidak keterlaluan? Lagipula memanfaatkan kematian Lucky itu kejam.”

“Kamu paranoid, Kirei. Aku harus balas dendam pada Millia sialan itu. Aku tidak bisa terima Jo memutuskan aku karena dia!”

“Kamu yakin Millia orangnya?”

“Sangat yakin!”

Millia tertegun.

Ini menggelikan! Aku harus buat perhitungan!

Kau tidak bisa.

Kenapa?

Sosok itu masih terus berayun perlahan ketika menunjuk ke satu titik. Millia menoleh dan menjerit ngeri melihat kerumunan itu mengelilingi sebuah mobil. Mobil polisi dan ambulan meraung-raung memekakkan telinga. Dua petugas kesehatan keluar dari kerumunan itu membawa sebuah tandu. Sesosok tubuh terbungkus kantong terbujur kaku di atasnya. Millia makin histeris ketika melihat dirinya terbaring kaku dengan tulang rusuk dan kepala nyaris hancur terlindas mobil itu.

Tidak!!!

Kenapa kau beritahu aku? Siapa kau?

Aku…Lucky. Kematianku tidak ada hubungannya dengan 4li3n. Aku tidak bisa biarkan Julie memanfaatkan kematianku untuk menakutimu.

Tapi kau telah MEMBUNUHKU!!

********************************

Kamar Julie, Pukul 00.56

<> >>restifebi : julie, apa kita tidak keterlaluan mempermainkannya?

<> >>julie_chan : sudahlah.

<> >>restifebi: tapi perasaanku tidak enak.

Diam.

<> >>julie_chan : baiklah

<> >>juli_chan : aku akan berterus terang padanya nanti.

<> >>4li3n has entered the room

Jari Julie mengambang di udara ketika membaca status itu di layar ponselnya.

Tidak mungkin. Hanya aku yang tahu password untuk user itu!

Kengerian tiba-tiba merayapi hatinya.

<> >>4li3n : Welcome to death_room

<> >>4li3n : jam berdentang 12 kali, pintu death_room telah terbuka

<> >>4li3n : berlanjut kembali, kematian kalian tidak akan tertunda



*** THE END ***

Baca selengkapnya......