WELCOME TO DEATH_ROOM
Penantang : Hikikomori-VQ
Yang Ditantang : Yosi_hsn
“Millia!” Suara Julie terdengar ketakutan. “Aku melihatnya. Dia datang!”
“Siapa?”
Millia memperkeras cengkeramannya pada ponselnya tanpa sadar.
“4li3n!”
Millia membeku sesaat.
“Kita mati, Millia!” Jullie terdengar ingin menangis.
“Julie!”
“Millia..aku..-“
Terputus. Millia tersentak.
“Julie!”
Julie, apa yang terjadi denganmu?
********************************
Awalnya Millia hanya merasa bosan dengan pekerjaannya ketika memutuskan bergabung dengan Lady_Room, chat room via ponsel yang beranggotakan para user perempuan yang membahas masalah-masalah seputar dunia perempuan itu. Dia berkenalan dengan Julie yang lalu memperkenalkan dirinya dengan user tetap Lady_Room lainnya. Dengan cepat Millia bersosialisasi dengan mereka. Mereka bertukar cerita, curhat, bertukar nomor telepon dan chat sampai jauh malam. Semuanya terasa mengasyikan hingga suatu malam seorang user baru muncul mengejutkan mereka.
<> >>4li3n has entered the room
<> >>4li3n : Welcome to death_room
Millia tertawa sendiri melihatnya. Seperti komentar temannay, dia menganggap user baru yang aneh muncul kembali.
<> >>4li3n : jam berdentang 12 kali, pintu death_room telah terbuka
<> >>4li3n : berlanjut kembali, kematian kalian tidak akan tertunda
Membaca pesan itu, Millia mulai berpikir user baru itu kelewatan. Saat itu jam memang sudah lewat tengah malam. Sejenak Millia tidak tahu harus menjawab apa. Jarinya berhenti di udara.
Dia pasti main-main.
<> >>milkymilly : mari bicara yang lain saja
<> >>4li3n : kalian mati
<> >>lady_kirei : hei, sudahlah
<> >>4li3n : satu persatu menuju death_room
<> >>lucky_love : hentikan!
<> >>4li3n : MATI
<> >>restifebi : HENTIKAN!!!
Millia tahu, teman-temannya mulai setakut dirinya.
<> >>milkymilly : kau siapa?
<> >>kanaya : siapa kau??
<> >>4li3n : alien, penjaga Death_room
<> >>milkymilly : CUKUP!! KUMOHON !!
Setelah itu, user itu tidak muncul lagi dalam chat mereka.
Millia nyaris melupakan kemunculan 4li3en di Lady_room ketika dua hari kemudian Julie untuk pertama kalinya menghubungi ponselnya dan mengabarkan kematian lucky, salah satu user Lady_room dengan nada ketakutan. Dia bilang itu karena ulah 4li3en. Millia hanya tertawa walaupun hatinya entah kenapa berdesir aneh.
Keesokan harinya Resti memberitahukan kecelakaan yang menimpa Kirei, user lainnya. Pembicaraan Lady_room berikutnya berubah ke pembahasan mengenai user 4li3n. Beberapa hari kemudian dua user lain berturut-turut menghilang dari Lady_room. Julie mengaku tidak bisa lagi menghubungi mereka dan semakin yakin ini berhubungan dengan keberadaan 4li3n. Dia ketakutan. Millia juga mulai merasa ragu untuk tidak mempercayai berita itu. Ketika mereka semua bingung, tiba-tiba sebuah pesan muncul, membuat mereka terbelalak ngeri.
<> >>4li3n has entered the room
<> >>4li3n : satu-persatu menuju death_room!
Millia menjatuhkan ponselnya tanpa sadar.
********************************
Apakah Julie baik-baik saja?
Millie mencoba menghubungi temannya sekali lagi. Dia makin gugup ketika menerima nada tidak aktif di ujung sana. Pikiran-pikiran mengerikan itu muncul dalam pikirannya.
4li3n telah mencapai Julie!
Millia merinding.
Tidak! Aku cuma paranoid!
Kau mungkin berikutnya!
Diam!!
Millia melempar ponselnya. Semuanya tidak mungkin. User yang bsia menghabisi user lain, itu pasti hanya permainan. Siapapun dia Millia memutuskan dia hanya sekedar mengganggunya. Itu tidak sungguh-sungguh! Dia benci Lady_room. Dia tidak mau mengunjunginya lagi. Dia tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang 4li3n dan dia tidak mau ambil pusing tentang Julie, tentang Lucky, tentang Kirei, atau tentang user lainnya.
Persetan dengan Lady_room!
Malam berikutnya, Millia menjerit mendapatkan pesan itu di messangernya.
<> >>4li3n : kau berikutnya
<> >>4li3n : besok kematianmu
<> >>4li3n : satu persatu menuju death_room
Millia terduduk lemas.
Ini pasti main-main!
Millia tersadar ketika merasakan seseorang tengah mengamatinya dari jendela. Tanpa sadar dia menoleh ke sana dan diapun menjerit ngeri. Sepasang mata semerah darah di tengah kubangan jelaga itu menatapnya dari jendela. Wajah kosongnya yang seputih kapas dan jari-jari sekurus tengkorak menempel di kaca. Urat-urat, kalau memang bisa disebut urat, itu tampak biru berdenyut-denyut di kulit keriputnya. Sosok itu diam tak bergerak. Millia menjerit makin keras dan menutup wajahnya.
“Millia ada apa?”
“Di jendela!...Pergi! Pergi!” Suara Millia tenggelam dalam telapak tangannya.
“Millia, sayang, tidak ada apa-apa di jendela!”
“Pergi!”
“Millia! Mama tidak lihat apa-apa!”
Millia perlahan membuka tangannya. Sosok itu telah hilang dari jendela. Millia mengerjap menyadari ibunya memandangnya dengan khawatir. Millia menggigit bibir.
“Maaf, mungkin Milly capek, Ma,” katanya pelan. Ibunya menghela nafas.
“Istirahatlah, Milly,” kata ibunya lembut sambil menutup tirai jendela itu. “Jangan terlalu asyik dengan ponselmu.”
Millia mengiyakan dan mengucapkan selamat malam. Dipandangnya punggung ibunya yang berlalu pergi. Entah kenapa perasaan tidak enak merayapi hatinya.
Ma, jangan tutup pintunya!
Suara pintu yang tertutup menyadarkan Millia. Tiba-tiba saja dia merasakan hawa dingin itu. Millia memandang ke AC kamarnya.
Apakah aku terlalu rendah memasang suhunya?
Millia mendekati mejanya dan meraih remote AC. Dia mengamatinya sesaat dan menghela nafas.
Ya, ini terlalu rendah.
Millia mengatur tombol suhu. Entah kenapa dia merasa tengkuknya merinding.
Pesan itu hanya main-main! Sebaiknya aku tidur.
Millia bergerak menuju tempat tidurnya.
********************************
Millia tersentak bangun, memandang dan menyadari dia telah mencengkram erat-erat selimutnya. Tengkuknya masih terasa dingin. Mimpi buruk itu lagi. Millia melihat teman-temannya terhisap satu-persatu ke dalam lubang gelap itu. Mereka menggapai dan menjerit minta tolong. Millia mendekat untuk meraih mereka lalu tiba-tiba sosok itu muncul, melayang ke arahnya sambil menyeringai. Wajahnya sepucat kapas dengan mata semerah darah ditengah kubangan jelaga. Rambutnya berkibar-kibar ketika dia mendekat dengan cepat dan berusaha mencekiknya!
4li3n!
Millia memandang jam di dinding kamarnya. Pukul satu. Dia bisa merasakan suasana yang begitu senyap di sekelilingnya. Dulu Millia tidak mempermasalahkan itu, tapi sekarang dia sungguh benci kesunyian. Millia beranjak melintasi kamar, menghindarkan pandangannya dari cermin besar yang ada di atas meja riasnya. Cermin selalu menyimpan banyak misteri di sisi lainnya. Mungkin saja sosok itu akan muncul lagi mengganggunya melalui bayang-bayang cermin kamarnya. Millia meraih gelas di meja dan menghabiskan isinya. Sejenak dia termangu meyakinkan dirinya.
Tidak, dia tidak akan muncul di kamarku!
Millia kembali menyusup masuk ke balik selimutnya. Sesaat matanya memandang langit-langit. Millia meyakinkan dirinya untuk tidur lagi atau besok dia kerepotan sendiri dengan pekerjaannya. Millia menghela nafas dan memiringkan tubuhnya mencoba posisi yang lebih nyaman. Dan ketika matanya menangkap pemandangan di hadapannya, diapun membelalak ngeri. Wajah itu, wajah yang dilihatnya di jendela tadi!
Perempuan itu tampak buram berbaur dengan aura halo tipis dari pakaian putihnya yang seputih wajahnya. Wajahnya yang kosong menatap ke arah Millia dengan mata semerah darah di tengah kubangan jelaga. Bibirnya begitu pucat mengatup tanpa ekspresi. Rambut panjangnya terurai hitam kelabu. Dia duduk diam di kursi meja riasnya. Millia nyaris tidak bisa bernafas. Dia menyesal telah membiarkan kursinya dalam posisi “seolah- seseorang- sedang- duduk- di -situ”
Aku pasti mulai berhalusinasi!
Dia tidak mungkin di dalam kamarku!
Millia perlahan menarik selimutnya menutupi seluruh wajahnya. Gemetar dia mencoba berdoa semampunya. Beberapa menit berlalu. Millia mencoba mengintip dan lega bukan main mendapatkan tidak ada siapa-siapa di atas kursi meja riasnya.
Aku memang berhalusinasi!
Millia memutuskan untuk tidur. Tapi mimpi itu kembali mengganggunya. Jeritan-jeritan itu kembali memenuhi kepalanya.
********************************
Millia bangun kesiangan keesokan harinya seperti orang linglung. Sejenak bayangan sosok itu hilang dari pikirannya ketika dia terburu-buru meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya. Dia nyaris jatuh tertersungkur, tersandung di halaman ketika bergegas keluar dari rumahnya.
“Milly, hati-hati langkahmu!” tegur ibunya. Millia tersentak.
Tersandung, pertanda tidak baik!
Entah kenapa perasaan tidak enak yang amat sangat muncul dalam hatinya.
Millia tidak pernah berpikir dia akan membenci ritual berangkat-ke-kantor-dengan bus-nya pagi ini. Kemarin dan hari-hari sebelumnya dia tidak pernah merasa keberatan harus duduk berdesakkan atau terguncang-guncang selama kurang lebih setengah jam menuju kantornya. Tapi pagi ini, situasi itu benar-benar bukan hal yang diinginkannya. Duduk diam membuatnya memikirkan mimpinya semalam, sosok itu semalam, dan akhirnya membuatnya memikirkan 4li3n dan ancaman itu.
Aku tidak akan mati hari ini!
Itu hanya ancaman iseng!
Kematian lucky dan kecelakaan lainnya hanya kebetulan!
Millia mencoba berulang kali meyakinkan dirinya. Dia terus tenggelam dalam lamunannya tanpa menyadari jari-jari kurus panjang yang perlahan menyentuh bahunya. Millia menoleh tersadar. Seraut wajah sepucat kapas memandang kosong ke arahnya. Matanya merah di tengah lingkaran gelap dengan urat-urat biru berkedut-kedut. Rambutnya yang hitam panjang tidak beraturan. Millia membelalak.
4li3n!
“Giliranmu!’
Millia tersentak dan berseru kaget.
“Giliranmu bayar, mbak!”
Millia mengerjap. Bayangan itu memudar, berubah menjadi wajah cekung , kosong, kurang tidur, berambut gimbal. Kondektur bis itu memandangnya dengan heran sekaligus sebal. Beberapa penumpang di bis itu tertawa kecil dan tersenyum. Millia tersadar. Kondektur itu menyodorkan tangannya. Millia mengambil uang dari dalam tasnya dengan muka bersemu merah.
“Makanya pagi-pagi jangan ngelamun, mbak,” gerutu kondektur itu seraya berlalu. Millia menghela nafas.
Aku tidak bisa begini terus!
********************************
Suasana kantor tampak ramai seperti biasa ketika dia tiba. Dia segera meletakkan tasnya dan mulai membuka komputernya, menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
Aku harus konsentrasi!
“Millia!”
Millia mengangkat wajahnya mendapatkan petugas resepsionis mendekatinya sambil menyodorkan sebuah amplop polos padanya.
“Ada yang menitipkan ini untukmu,” kata temannya.
Millia menerimanya dengan heran.
“Dari siapa?”
“Tidak tahu. Katanya dia juga dititipi seseorang.”
Millia tertegun sesaat.
“Terima kasih,” katanya kemudian. Temannya berlalu.
Millia membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kartu putih dari dalamnya. Millia mencoba membalik kartu itu dan tersentak. Tulisan itu berwarna merah. Mungkin ditulis dengan cat merah, atau bahkan….darah!
Giliranmu! Satu persatu menuju Death_room!
Millia membekap mulutnya, ingin menjerit tapi segera tersadar dia sedang berada di mana. Suaranya seolah tercekik di kerongkongannya. Dia bergegas menghambur ke toilet kantor.
Ini tidak sungguh-sungguh terjadi! Aku tidak akan mati hari ini!
Millia terengah-engah memandang bayangannya di cermin toilet. Tangannya mencengkeram ujung wastafel dengan erat. Kakinya terasa lemas.
Tidak mungkin dia menggangguku pagi-pagi begini!
Suara kran air yang tiba-tiba terbuka membuatnya tersentak. Millia mengangkat wajahnya dan berbalik ngeri menyadari tidak ada seorangpun dalam ruang toilet yang sepi ini.
“Siapa itu?!”
Suara kran terdengar makin keras menghantam dasar porselen bak-bak kecil itu. Millia mendapatkan suaranya tenggelam di antara suara percikan deras kran-kran toilet itu. Millia menggigil ngeri. Tiga toilet berjejer menghadap tembok di samping deretan wastafel tempat Millia berdiri. Millia mendekat perlahan. Entah kenapa lorong di depan toilet itu tampak mencekam. Tiba-tiba saja dia mengeluhkan penerangan kamar mandi yang redup. Kombinasi dari warna lantai dan dinding semakin menambah suram suasana.
“Siapa?”
Millia mendapatkan suaranya gemetar. Menguatkan hati, dia mencoba melangkah menuju deretan pintu toilet yang tertutup itu. Pelan dia berjingkat dan membuka salah satu pintunya dengan tiba-tiba. Suara deras kran air di dalamnya terdengar makin keras.
Kosong!
Dia membuka pintu lainnya.
Kosong!
Pintu yang lain!
Kosong!
Millia bersandar di dinding di ujung lorong dengan ketakutan.
Siapa kau?
“Mbak sedang apa??”
Millia menjerit kaget dan menoleh.
“Mbak?”
Millia tersadar ketika melihat seorang petugas kebersihan masuk ke dalam. Dia buru-buru mendekatinya dengan ketakutan.
“Itu, kenapa krannya tiba-tiba terbuka sendiri?”
Petugas kebersihan itu mengerut heran.
“Mbak kenapa? Kantor baru buka. Ini masih pagi. Keran-keran itu memang dibuka secara otomatis kalau pagi untuk keperluan bersih-bersih.”
Millia merasa seperti orang tolol ketika meninggalkan toilet itu.
“Millia, kau baik-baik saja?”
Millia tidak mempedulikan Diana, temannya, yang menyapanya ketika dia lewat.
Aku baik-baik saja!
Tidak, Aku gila!
********************************
Bagian verifikasi kartu kredit sungguh bukan divisi favorit. Tanggungjawabnya setiap hari hanya memeriksa kelengkapan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan aplikasi yang masuk, memasukkannya dalam database customer dan menyimpan berkas-berkas itu dalam lemari arsip. Kemarin dia masih menganggapnya sebagai pekerjaan yang membosankan. Tapi pagi ini Millia memutuskan untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya ketika melihat setumpuk aplikasi baru di atas mejanya. Dia tidak mau tenggelam dalam pikiran paranoidnya lagi. Dia sudah membuang jauh-jauh surat sialan itu dari meja dan dari pandanganya dan mulai meraih berkas aplikasi pertamanya hari ini.
“Banyak yang masuk hari ini, ya, Milly?”
Millia menoleh. Seno teman satu divisinya mendekat. Millia mengiyakan sambil kembali bekerja.
“Kubantu membawakan ke ruang arsip?” tawar pemuda itu lagi.
“Tidak usah. Kubawa sendiri saja.”
“Baiklah.”
Millia tahu Seno masih memandangnya beberapa saat sebelum pemuda itu akhirnya berlalu menuju mejanya. Suara lembut ponselnya membuat Millia menghentikan gerakannya sesaat. Dia memandang tasnya dengan curiga. Pikirannya sekuat tenaga memblokir gambaran 4li3n, Lady_room user dan ancaman-ancaman itu. Dengan berdebar dia meraih ponselnya. Dia menghela nafas lega melihat nama Jo, pacarnya, berkedip-kedip di layar ponselnya.
Pulang kantor kujemput, ya? Tiba-tiba aku ingin makan malam sama kamu.
Millia merasa kehangatan dan ketenangan yang tiba-tiba menjalari hatinya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyum pertamanya hari ini. Jarinya bergerak cepat membalas sms itu.
Jo, aku sayang kamu.
Jam menunjukkan waktu makan siang ketika Millia beranjak membawa tumpukan arsip-arsip hasil verifikasi itu ke gudang pengarsipan. Ruangan itu terletak di sudut ruang kerjanya, tidak terlalu besar dengan ventilasi yang minim. Rak-rak besi menjulang tinggi, tempat berkas-berkas aplikasi itudisimpan. Dua buah meja kerja tidak terpakai dijejalkan di sudut ruangan itu. Ketika dia menata menyimpan berkasnya, sebagian besar teman kantornya sudah beranjak keluar. Millia menyelipkan berkas terakhir dan menghela nafas. meletakkan berkas itu di salah satu rak terjauh. Dia menghela nafas. Sekarang dia bisa makan siang dengan tenang. Millia mengangkat wajahnya dan tersentak.
Millia tidak tahu harus bagaimana. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokannya. Wanita itu duduk di atas meja tidak terpakai di sudut ruangan. Sudut yang gelap membuat kepucatannya tampak makin bersinar. Sosoknya yang buram bercampur dengan sinar halo samar di sekelilingnya. Wajahnya menunduk, rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya bertumpu pada sisi meja. Sebentuk gambaran kaki berayun pelan seirama dengan punggungnya.
Maju. Mundur. Maju. Mundur.
Perlahan dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Millia. Mata semerah darah di tengah kubangan jelaga itu tepat menatapnya. Wajah kosongnya sepucat mayat. Bibirnya yang beku dan biru itu tiba-tiba bergerak dan menyeringai. Millia terbelalak ngeri. Tangan kurus kering itu terulur ke arahnya. Walaupun jarak itu cukup jauh di antara mereka, Millia mencoba untuk lari. Tapi kakinya seolah tertanam pada lantai. Dia merasa sosok itu tiba-tiba melompat ke arahnya. Akhirnya suaranya menemukan jalannya untuk menjerit. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap.
********************************
“Millia,” suara lembut itu terdengar makin jelas di telinganya. Millia merasakan seseorang menggenggam lembut tangannya.
Siapa?
Millia perlahan membuka mata. Dia mendapatkan Seno dan Diana memandangnya dengan khawatir. Diana menggenggam tangganya.
“Apa yang terjadi denganmu? Seno menemukan kamu pingsan di gudang arsip,” kata Diana prihatin.
Millia tidak menyahut. Dia memandang sekeliling dan mendapatkann dirinya berada di ruangan yang serba putih.
“Ini dimana?”
“Di rumah sakit dekat kantor. Bos langsung menyuruh kami membawamu kesini. Kami khawatir karena kamu tiba-tiba pingsan.” Jelas Diana.
“Kamu kenapa, Millia?” tanya Seno tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Kamu kelihatan aneh sejak tadi pagi.”
Millia tidak menjawab. Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada teman-temannya kalau sesosok wanita berambut panjang yang menerornya belakangan ini telah muncul pula di ruang kerjanya? Bagaimana dia harus menceritakan 4li3n dan ancaman-ancaman itu? Millia tahu mereka tidak akan percaya, bahkan mungkin menganggapnya kekanak-kanakan.
Millia menghela nafas.
“Aku tidak apa-apa. Mungkin darah rendahku kumat,” kata Millia pelan.
Kedua temannya masih di situ beberapa saat kemudian. Keduanya pamit berlalu ketika jam makan siang hampir berakhir. Seno masih sempat memandangnya sebelum pergi.
“Benar kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu.
“Ya.”
*********************
Malam sudah mulai turun. Millia membolak-balik majalah di pangkuannya dengan malas. Dokter memintanya menginap semalam di rumah sakit untuk memastikan kondisi tubuhnya. Millia tahu itu hanya akal-akalan pihak rumah sakit agar dia membayar biaya rawat inap semalam. Tapi Millia sedang malas berdebat. Dia hanya mengiyakan. Ibunya sudah menjenguknya tadi sore. Millia meyakinkan kalau malam ini Jo akan menemaninya sehingga ibunya tidak perlu ikut menginap. Jo mengirim sms hampir setiap setengah jam.
Aku di jalan sekarang. Aku bawa nasi goreng seafood pesananmu.
Millia tersenyum memandang sms terakhir Jo di ponselnya.
Jo, cepatlah kemari.
Millia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia sangat ingin bertemu dengan pemuda itu. Millia menghentikan gerakannya ketika merasakan seseorang memperhatikannya. Seperti ada yang memperkecil suhu AC, ruangan itu tiba-tiba terasa dingin mencekam. Millia merasakan perasaan tidak enak yang menjadi. Pelan dia menoleh dan melihatnya. Sosok itu kini duduk membisu di daun jendela yang terbuka, berlatarkan langit yang mulai gelap. Tubuhnya mengayun pelan.
Maju. Mundur. Maju. Mundur.
Millia tercekat ngeri.
“Mau apa kau?”
Akhirnya dia berhasil mengeluarkan suarnya. Sosok itu tidak menyahut. Tubuhnya masih berayun pelan.
Maju. Mundur. Maju. Mundur.
“Pergi kau,”
Millia bisa merasakan suaranya gemetar.
“Pergi kau!”
Sosok itu mengangkat wajahnya dan menyeringai.
“PERGI! PERGI!!”
Millia menjerit histeris. Pintu kamar terbuka. Dua orang suster masuk dengan terburu-buru.
“Kau tidak bisa membunuhku!!”
“Mbak, ada apa?”
Kedua suster itu berusaha menenangkan Millia. Tapi Millia terus meronta
“Kau tidak bisa membunuhku!!”
Sosok itu berdiri dan mulai mengulurkan tangannya. Millia membelalak.
“Pergi kau!”
“Mbak!”
“PERGI!!”
Sekuat tenaga Millia menyentakkan pegangan kedua suster dan menghambur keluar dari kamarnya.
“MBAK!!”
Millia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruangannya, menrabas apapun yang berada di depannya.
Aku tidak boleh membiarkan dia menangkapku!
Aku tidak bisa membiarkan dia menarikku ke dalam ruangnya!
Harus lari! Lari sejauh-jauhnya!!
“Mbak!! AWASS!!”
Millia hanya bisa mendengar suara dencit ban yang mengerikan itu diikuti oleh suara benturan yang sangat keras. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Suara berderak dari dalam tubuhnya terdengar mengerikan.
Millia tersentak.
Apakah aku lolos darinya?
Millia merasakan suasana sesaat menjadi sunyi di sekelilingnya. Hal pertama yang dilihatnya kemudian adalah sosok itu. Dia duduk berayun-ayun di sebuah dahan pohon di dekatnya. Millia tertegun. Wanita berambut panjang itu ternyata tidak semengerikan yang dia kira. Sepasang mata itu menatapnya. Merah di tengah kubangan jelaga, tapi bersinar sedih. Perlahan dia menyeringai. Bukan seringai, melainkan senyum yang pahit. Millia merasakan keberanian muncul di hatinya.
Kenapa kau menakutiku?
Aku tidak menakutimu.
Millia tersentak mendengar jawaban itu dalam pikirannya. Apakah sosok itu mencoba berkomunikasi dengannya.
Kau 4li3n?
Bukan.
Lalu kenapa kau muncul?
Aku harus memberitahumu.
Memberitahu apa?
Millia tercengang melihat gambaran-gambaran itu. Seolah proses transfer video terjadi dalam pikirannya. Tiba-tiba saja Millia melihat gambaran-gambaran itu dengan jelas.
Perempuan itu mengetik user 4li3n melalui ponselnya yang lain. Perempuan itu menuliskan kata-kata misterius itu sambil tertawa-tawa. Perempuan itu menghubungi teman-temannya satu-satu dan menceritakan rencananya.
“Aku akan bilang kematian yang menimpa Lucky karena 4li3n. Lalu kecelakaan menimpamu. Kemudian Resti dan Kana menghilang. Lalu aku pura-pura diserang orang. Lalu akan kukirim dia pesan. Dia pasti ketakutan!”
Perempuan itu tertawa.
“Julie, apa itu tidak keterlaluan? Lagipula memanfaatkan kematian Lucky itu kejam.”
“Kamu paranoid, Kirei. Aku harus balas dendam pada Millia sialan itu. Aku tidak bisa terima Jo memutuskan aku karena dia!”
“Kamu yakin Millia orangnya?”
“Sangat yakin!”
Millia tertegun.
Ini menggelikan! Aku harus buat perhitungan!
Kau tidak bisa.
Kenapa?
Sosok itu masih terus berayun perlahan ketika menunjuk ke satu titik. Millia menoleh dan menjerit ngeri melihat kerumunan itu mengelilingi sebuah mobil. Mobil polisi dan ambulan meraung-raung memekakkan telinga. Dua petugas kesehatan keluar dari kerumunan itu membawa sebuah tandu. Sesosok tubuh terbungkus kantong terbujur kaku di atasnya. Millia makin histeris ketika melihat dirinya terbaring kaku dengan tulang rusuk dan kepala nyaris hancur terlindas mobil itu.
Tidak!!!
Kenapa kau beritahu aku? Siapa kau?
Aku…Lucky. Kematianku tidak ada hubungannya dengan 4li3n. Aku tidak bisa biarkan Julie memanfaatkan kematianku untuk menakutimu.
Tapi kau telah MEMBUNUHKU!!
********************************
Kamar Julie, Pukul 00.56
<> >>restifebi : julie, apa kita tidak keterlaluan mempermainkannya?
<> >>julie_chan : sudahlah.
<> >>restifebi: tapi perasaanku tidak enak.
Diam.
<> >>julie_chan : baiklah
<> >>juli_chan : aku akan berterus terang padanya nanti.
<> >>4li3n has entered the room
Jari Julie mengambang di udara ketika membaca status itu di layar ponselnya.
Tidak mungkin. Hanya aku yang tahu password untuk user itu!
Kengerian tiba-tiba merayapi hatinya.
<> >>4li3n : Welcome to death_room
<> >>4li3n : jam berdentang 12 kali, pintu death_room telah terbuka
<> >>4li3n : berlanjut kembali, kematian kalian tidak akan tertunda
*** THE END ***
Baca selengkapnya......